Selamat datng di Six Clim Web yang mengulas lebih jauh tentang iklim, gejolak iklim serta bahanyanya. ^^Semoga bermanfaat^^

Climate Change

Climate change is the biggest and most controversial environmental issue of our times. Or rather, the cause of climate change is.

Response Act

As of 1st January 2013 it is illegal to release synthetic greenhouse gases into the ozone. This comes under the Climate Change Response Act (CCRA) 2002 for refrigerants that are ozone depleting.

Climate change will change our life on Earth and will affect all nations, all plants, all animals, all humans all living beings on Earth.

Do not rely on capital and the state to do it!

The current and future consequences of global change

The potential future effects of global climate change include more frequent wildfires, longer periods of drought in some regions and an increase in the number, duration and intensity of tropical storms.

Tampilkan postingan dengan label Regional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Regional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013


Perubahan Iklim di Indonesia

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/03/02/1645325620X310.jpgShutterstockIlustrasi
TERKAIT:
Oleh Agus Supangat
Perubahan iklim yang terjadi di Indonesia umumnya ditandai adanya perubahan temperatur rerata harian, pola curah hujan, tinggi muka laut, dan variabilitas iklim (misalnya El Niño dan La Niña, Indian Dipole, dan sebagainya). Perubahan ini memberi dampak serius terhadap berbagai sektor di Indonesia, misalnya kesehatan, pertanian, perekonomian, dan lain-lain.
Beberapa studi institusi, baik dari dalam maupun luar negeri menunjukkan bahwa iklim di Indonesia mengalami perubahan sejak tahun 1960, meskipun analisis ilmiah maupun data-datanya masih terbatas.
Perubahan temperatur rerata harian merupakan indikator paling umum perubahan iklim. Ke depan, UK Met Office memproyeksikan peningkatan temperatur secara umum di Indonesia berada pada kisaran 20 C – 2,50 C pada tahun 2100 berdasarkan skenario emisi A1B–nya IPCC, yaitu penggunaan energi secara seimbang antara energi non-fosil dan fosil (UK Met Office, 2011). Data historis mengonfirmasi skenario tersebut, misalnya kenaikan temperatur linier berkisar 2,60 C per seratus tahun untuk wilayah Malang (Jawa Timur) berdasarkan analisis data 25 tahun terakhir (KLH, 2012).
Peningkatan temperatur rerata harian tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap pola curah hujan yang umumnya ditentukan sirkulasi monsun Asia dan Australia. Dengan sirkulasi monsun, Indonesia memiliki dua musim utama yang berubah setiap setengah tahun sekali (musim penghujan dan kemarau). Perubahan temperatur rerata harian juga dapat mempengaruhi terjadinya perubahan pola curah hujan secara ekstrem.
UK Met Office lebih lanjut mencatat kekeringan maupun banjir parah sepanjang 1997 hingga 2009. Analisis data satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) dalam ICCSR (Indonesian Climate Change Sectoral Roadmap; Bappenas, 2010) untuk periode 2003-2008 memperlihatkan peningkatan peluang kejadian curah hujan dengan intensitas ekstrem, terutama di wilayah Indonesia bagian barat (Jawa, Sumatera, dan Kalimantan) serta Papua. Salah satu fenomena yang mengonfirmasi terjadinya peningkatan temperatur di Indonesia adalah melelehnya es di Puncak Jayawijaya, Papua.
Di samping mengakibatkan kekeringan atau banjir ekstrem, peningkatan temperatur permukaan atmosfer juga menyebabkan terjadinya peningkatan temperatur air laut yang berujung pada ekspansi volum air laut dan mencairnya glestser serta es pada kutub. Pada tahap selanjutnya, tinggi muka air laut mengalami kenaikan yang berisiko terhadap penurunan kualitas kehidupan di pesisir pantai.
Kenaikan rerata tinggi muka laut pada abad ke-20 tercatat sebesar 1,7 mm per tahun secara global, namun kenaikan tersebut tidak terjadi secara seragam. Bagi Indonesia yang diapit oleh Samudera Hindia dan Pasifik, kenaikan tinggi muka laut yang tidak seragam dapat berpengaruh pada pola arus laut. Selain perubahan terhadap pola arus, kenaikan tinggi muka laut yang tidak seragam juga meningkatkan potensi terjadinya erosi, perubahan garis pantai, mereduksi wetland (lahan basah) di sepanjang pantai, dan meningkatkan laju intrusi air laut terhadap aquifer daerah pantai.
Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Bappenas (ICCSR, 2010) dan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) pada tahun 2011, gelombang badai (storm surge); pasang surut, serta variabilitas iklim ekstrem seperti La Niña yang termodulasi oleh kenaikan tinggi muka laut juga turut berkontribusi dalam memperparah bahaya penggenangan air laut di pesisir.
Analisis awal terhadap data-data simulasi gelombang menunjukkan bahwa rerata tinggi gelombang maksimum di perairan Indonesia pada periode monsun Asia berkisar antara 1 m hingga 6 m. Untuk Laut Jawa, tinggi gelombang maksimum, terutama Januari dan Februari mencapai 3,5 m. Hal ini menambah risiko banjir di daerah Pantai Utara Jawa (Pantura) karena bertepatan dengan puncak musim penghujan di Indonesia.
Selain risiko banjir di pantai, gelombang ekstrem juga berdampak buruk terhadap distribusi barang antar pulau yang banyak menggunakan transportasi laut. Di sisi lain, analisis yang dilakukan terhadap fenomena El Niño dan La Niña (Sofian, 2010) menunjukkan bahwa kedua fenomena tersebut akan lebih banyak berpeluang terjadi di masa mendatang dengan periode dua hingga tiga tahun sekali yang diduga disebabkan perubahan iklim.
Perubahan iklim di Indonesia berdampak cukup besar terhadap produksi bahan pangan, seperti jagung dan padi. Produksi bahan pangan dari sektor kelautan (ikan maupun hasil laut lainnya) diperkirakan akan mengalami penurunan yang sangat besar dengan adanya perubahan pada pola arus, temperatur, tinggi muka laut, umbalan, dan sebagainya.
Indonesia bahkan berada pada peringkat 9 dari 10 negara paling rentan dari ancaman terhadap keamanan pangan akibat dampak perubahan iklim pada sektor perikanan (Huelsenbeck, Oceana, 2012). Akibat dampak perubahan iklim dan pengasaman laut (ocean acidification) pada ketersediaan makanan hasil laut, Indonesia berada pada peringkat 23 dari 50 negara paling rentan berdasarkan kajian yang sama.
Kajian mengenai kekeringan di Indonesia akibat perubahan iklim, terutama pada skala nasional masih kurang. Namun peluang banjir di Indonesia akan meningkat seiring peningkatan tinggi muka laut, intensitas gelombang ekstrem, curah hujan yang sangat tinggi dan kejadian La Niña. Bencana banjir ekstrem terutama terjadi pada daerah pesisir yang merupakan lokasi kota-kota strategis seperti DKI Jakarta. Bencana ini berdampak buruk bagi perekonomian serta mengancam kesehatan masyarakat.
Dari beberapa kajian, beberapa indikator menunjukkan bahwa perubahan iklim sudah berlangsung di Indonesia. Perubahan tersebut diketahui memberi dampak terhadap multisektor meskipun kajian maupun data yang tersedia masih terbatas. Di samping itu, proyeksi iklim selalu mengandung ketidakpastian. Tantangan terbesar adalah melakukan kuantifikasi terhadap ketidakpastian tersebut untuk meningkatkan kedayagunaannya dalam pengambilan keputusan.
Dalam hal proyeksi iklim berdasarkan Global Climate Model (GCM), setidaknya terdapat tiga sumber ketidakpastian yang harus diperhitungkan yaitu skenario emisi gas rumah kaca, sensitivitas iklim global terhadap emisi gas rumah kaca (pemilihan model GCM), dan respon sistem iklim regional terhadap pemanasan global (model downscalling).
Langkah penyempurnaan perlu terus dilakukan untuk mengatasi segala keterbatasan data yang tersedia maupun metodologi yang telah digunakan dalam kajian perubahan iklim di Indonesia, guna memenuhi kebutuhan nasional akan informasi mengenai perubahan iklim yang lebih akurat. Untuk masa mendatang, perlu suatu program yang disusun untuk memperkuat basis ilmiah (scientific basis) perubahan iklim secara lebih terkoordinasi.
Program ini perlu disusun melalui pemberdayaan berbagai lembaga yang relevan secara optimal, khususnya lembaga penelitian dan pengembangan serta perguruan tinggi. Dengan demikian, roadmapdapat digunakan bukan hanya untuk memberi panduan bagi aksi adaptasi dan mitigasi tiap sektor, tapi juga untuk memperkuat basis ilmiah mengenai perubahan iklim di masa mendatang.
Pada dasarnya, perubahan iklim bukan merupakan penyebab tunggal dari bencana alam yang saat ini semakin sering terjadi. Namun perubahan iklim berkontribusi dalam membuat fenomena atau bencana alam hidro-meteorologi ini menjadi ekstrem atau luar biasa.
Pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa kajian tentang perubahan iklim yang – meskipun masih terbatas dan belum akurat – dapat menjadi titik awal dari suatu program yang bermanfaat bagi penguatan basis ilmiah perubahan iklim yang terkoordinasi bagi sektor-sektor yang ada di Indonesia. Pada akhirnya, kapasitas masing-masing sektor dapat meningkat untuk mengatasi berbagai persoalan akibat perubahan iklim di Indonesia.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, Republik Indonesia merupakan negara terpadat ke-empat di dunia. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang pesat menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di dunia. Pembangkit tenaga listrik dan industri berteknologi konvensional terus menerus mencemari lingkungan dengan zat-zat berbahaya, termasuk GRK. Penebangan dan pembakaran hutan demi kepentingan ekonomi juga menyebabkan tingginya emisi GRK. Kota-kota besar dan area perkotaan sering ditutupi asap tebal polusi kendaraan bermotor. Lemahnya pengelolaan sampah menyebabkan polusi air, tanah, dan udara yang juga berkontribusi terhadap pemanasan global. Ini hanya sebagian kecil masalah yang dihadapi Indonesia. Keadaan ini akan semakin memburuk apabila ketergantungan terhadap bahan bakar fosil terus berlangsung dan efisiensi energi tidak segera dilakukan di sektor- sektor terkait.
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan 80.000 kilometer garis pantai dan lebih dari 17.000 pulau, berada di jalur Cincin Api Pasifik (ring of fire) yang menyebabkan Indonesia rawan terhadap bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor. Posisi geografis ini juga menyebabkan Indonesia rentan terhadap dampak negatif dari perubahan iklim, yang sebagian sudah mulai dirasakan, seperti: musim kemarau berkepanjangan, banjir, dan cuaca ekstrim. Hal ini berdampak buruk bagi kesehatan dan kesejahteraan penduduk, serta mengancam keanekaragaman hayati dan stabilitas ekonomi Indonesia.
Pemerintah Indonesia menyadari bahwa penanganan perubahan iklim merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tantangan pembangunan dan oleh sebab itu Pemerintah Indonesia berperan aktif dalam berbagai kerjasama internasional yang terkait. Dalam upaya mencegah pemanasan global, Pemerintah Indonesia berambisi menargetkan penurunan emisi sebesar 26% pada tahun 2020 dengan upaya sendiri, dan sebesar 41% apabila ada bantuan internasional yang memadai.
Dokumen-dokumen seperti Rencana Aksi Nasional Perubahan Iklim (RAN-PI), Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK), dan Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR) diharapkan dapat memandu penyusunan strategi dan kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara efektif. Kesuksesan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan ini sangat tergantung pada komitmen dan upaya para pemangku kepentingan di bidang-bidang terkait.

Rabu, 08 Mei 2013

Delapan kecamatan Kabupaten Bekasi rawan kekeringan


Bekasi (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mencatat sedikitnya delapan kecamatan di wilayah itu rawan kekeringan dan krisis air bersih selama kemarau.

"Kami akan berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait, seperti Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Palang Merah Indonesia (PMI), serta aparatur pemerintahan terkait untuk mengantisipasi dampak kekeringan," ujar Kepala BPBD Kabupaten Bekasi Abdul Karim, di Cikarang, Selasa.

Menurutnya, koordinasi tersebut dibutuhkan agar penanganan terhadap krisis air selama kemarau berlangsung cepat.

"Dari data kita saat ini ada sembilan kecamatan yang rawan kekeringan karena berada jauh dari sumber air seperti sungai," katanya.

Daerah yang tingkat kekeringannya cukup mengkhawatirkan, kata dia, ada di daerah selatan seperti Kecamatan Bojongmangu, Setu, Serang, dan Serang Baru. 

"Selain itu, di daerah utara tercatat Muaragembong, Tarumajaya dan Babelan," katanya.

Logistik yang sudah mulai dipersiapkan, kata dia, adalah mobil tangki untuk distribusi air bersih ke daerah yang diperkirakan akan mengalami kekeringan. 

"Nanti kita gunakan mobil tangki air dari PDAM Tirta Bhagasasi," katanya.

Pada 2012, kata dia, Pemkab Bekasi dengan PDAM menyediakan air bersih dengan jumlah sesuai kebutuhan di lapangan. 

Kebutuhan air yang disediakan selain untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya, juga untuk keperluan irigasi.

Ia mengatakan berbagai alternatif akan dilakukan saat musim kemarau seperti pembuatan sumur dan mencari mata air untuk menyalurkan air ke perkampungan yang mengalami krisis air bersih.

"Kami berharap kekeringan tahun ini tidak terlalu parah. Kami akan siaga menyediakan air bersih," katanya.

Sumber: AntaraNews